Waspadailah penyakit tak mudah terdeteksi Spondylosis Cervical

Spondylosis-Cervical

Biozatix-News : Informasi Populer Sains Teknologi dan Kesehatan

Pernahkah Anda menyadari bahwa gerakan sehari-hari yang dilakukan mungkin berpotensi menyebabkan gangguan serius pada kesehatan. Spondylosis Cervical atau yang lebih popular dengan nama Spondilosis Leher (terjepit saraf tulang leher), misalnya, gejala awalnya ringan hanya kesemutan, namun penderita dapat mengalami kelumpuhan.

Spondylosys Cervial terjadi akibat sumsum saraf leher terjepit bantalan sendi leher yang lepas atau tertekan oleh pengapuran.

Dari gejala ringan, keluhan semakin berat berupa nyeri leher, bahu, belikat, tangan, jari bahkan melemah hingga tak mampu menulis, pegang gelas bisa jatuh. Jika dibiarkan berlanjut menjadi gangguan buang air, tidak dapat menahan air seni dan bahkan gangguan seksual.

Spondilosis leher kebanyakan disebabkan karena tubuh kurang bergerak atau salah melakukan gerakan yang lama kelamaan menjadi kebiasaan. Meski demikian, tidak semua penderita Spondilosis Leher memerlukan operasi. Indikasi operasi leher cukup ketat dengan teknik operasi bedah mikro.

Apabila menemukan gejalanya dokter biasanya menanyakan keluhan dan melakukan pemeriksaan fisik seperti nyeri tekan dan jangkauan gerak. Setelah itu apabila dianggap perlu, dokter akan menyarankan penderita melakukan berbagai pemeriksaan misalnya X-ray, CT-scan atau MRI.

Bagaimana cara penanganan terapinya?

Penanganan bervariasi tergantung penilaian dokter akan kondisi dan gejala pasiennya. Secara umum ada penanganan bedah dan non-bedah. Penanganan bedah baru disarankan apabila penderita menampilkan gejala gangguan neurologis yang mengganggu kualitas hidup penderita. Selain itu dokter juga memperhatikan riwayat kesehatan umum pasien dalam menyarankan tindakan bedah. Apabila tidak perlu, maka dokter akan menyarankan penanganan non bedah yang meliputi pemberian obat antiradang (NSAID), analgesik, dan obat pelemas otot. Selain itu apabila perlu dokter dapat menganjurkan pemasangan alat bantu seperti cervical collar yang tujuannya untuk meregangkan dan menstabilkan posisi. Fisioterapi berupa pemberian panas dan stimulasi listrik juga dapat membantu melemaskan otot. Dan yang tak kalah pentingnya adalahexercise. Dengan exercise maka otot-otot yang lemah dapat diperkuat, lebih lentur dan memperluas jangkauan gerak.

Mengingat beratnya gejala penyakit ini dan kita tidak pernah tahu seberapa cepat proses degenerasi terjadi pada tulang punggung kita, maka ada beberapa hal yang dapat kita lakukan dari sekarang untuk mengurangi resiko terjadinya spondylosis.

  1. Hindari aktivitas dengan benturan tinggi (high impact), misalnya berlari. Pilih jenis olah raga yang lebih lembut dan mengandalkan peregangan dan kelenturan.
  2. Lakukan exercise leher dan punggung yang dapat meningkatkan kekuatan otot, kelenturan, dan jangkauan gerak.
  3. Jangan melakukan aktivitas dalam posisi yang sama dalam jangka waktu lama. Beristirahatlah sering-sering. Misalnya waktu menonton TV, bekerja di depan komputer, ataupun mengemudi.
  4. Pertahankan postur yang baik. Duduklah yang tegak. Jangan bertumpu pada satu kaki bila berdiri. Jangan membungkuk bila hendak mengangkat barang berat lebih baik tekuk tungkai dan tetap tegak.
  5. Lindungi diri dengan sabuk pengaman saat berkendara. Hal ini membantu mencegah terjadinya cedera bila ada trauma.
  6. Berhenti merokok. Merokok dapat meningkatkan resiko terjadinya spondylosis.

 

Waspadailah penyakit tak mudah terdeteksi Spondylosis Cervical